Rabu, 03 Mei 2017

Menjadi Perempuan Indonesia itu Takdirku

Aku dan Takdirku

Banyak hal yang sudah saya alami dalam hidup membuat saya bangga menjadi perempuan. Saya hidup di lingkungan keluarga yang cukup ketat dalam urusan agama. Dulu saya sering ngeluh, bahkan kadang ingin pergi dari rumah untuk atas nama kebebasan. Kebebasan yang ingin juga saya rasakan selayaknya anak seusia saya pada waktu itu. Sebagai remaja saya ingin juga dong main ke rumah teman, punya sahabat karib, atau mungkin pacaran. Sebenarnya bapak dan ibuk gak pernah sedikitpun membentak, memarahi, apalagi memukul. Mereka berdua hanya memberikan kami nasehat tentang batas-batas dalam pergaulan. Itu sudah membuat kami bertiga takut dan mematuhinya. Walau saya sendiri ingin juga sih sedikit nakal pada waktu itu. 

Sering terlintas dalam pikiran untuk pergi dari rumah tapi cinta dan sayangku pada mereka mengalahkannya. Namun kini ketika sudah dewasa dan berkeluarga, saya baru mengerti perasaan orangtua saya pada waktu itu. Bahwa apapun yang mereka lakukan untuk kami tak lain untuk kebaikan dan masa depan kami lebih baik.  Apa jadinya kami jika tanpa aturan. Apalagi saya anak perempuan. Tidak bisa dipungkiri walau persamaan hak telah lama kita dapat, perempuan dan laki-laki tetap berbeda. Mereka mempunyai keistimewaan dan peran masing-masing sesuai kodratnya. Karena masyarakat kita masih beranggapan bahwa martabat orangtua tergantung pada anak perempuannya. Apalagi kalau sudah gadis. Anak gadis selalu jadi pusat perhatian semua mata dengan beribu maksud. Maksud ingin memata-matai kita. Maksud ingin menggoda. Atau maksud lainnya. Jika gak tahan goda terjerumus lah kita. Dan menyesal datangnya pasti belakangan. Alhamdulillah berkat didikan orangtua, saya berhasil melewati masa-masa remaja dengan hal-hal positif. Walau kadang pengen juga sih agak nakal sedikit tapi alhamdulillah bisa mengendalikan.

Sumber : Koleksi Pribadi
Kini saya sudah menikah. Tak terasa pernikahan kami sudah menginjak tahun kesembilan. Kami juga sudah dikaruniai dua jagoan. Tentunya aral merintang silih berganti tapi kami berdua berhasil melewati. Selama sembilan tahun pernikahan tentunya banyak pelajaran hidup saya dapatkan. Peran yang bertambah itu pasti. Yang sebelumnya hidup saya hanya untuk belajar dan orangtua, kini beralih untuk suami dan anak. Walau membahagiakan orangtua tetep jadi tujuan sih, tapi tanggungjawabku kepada suami dan anak sekarang jadi prioritas. 

Perjalanan hidup selama pernikahan membuat saya mengerti betapa besar pengorbanan ibuk terhadap kami bertiga. Pengorbanan ibuk demi kehagiaan dan masa depan kami. Kadang nyesel banget jika dulu sering uring-uringan dan suka memberontak. Sekarang saya baru sadar bahwa apapun yang mereka lakukan untuk kami anaknya hanyalah untuk kebaikan kami saja. Walau mungkin ada salah-salah dikit itu wajar wong manusia. Bagaimanapun cara didik mereka tapi nyatanya banyak efek positif yang bisa saya rasakan. Saya yang dahulu seorang anak kini juga seorang ibu. Semua perjalanan selama menjadi anak adalah modal besar saya dalam mendidik dua anak saya, Muhammad Nazhif Kayyisa Wafi dan Muhammmad Hilmi Haidar Al-faruq, kebanggan saya.

Salah satunya keputusan saya untuk risen mengajar. Setelah 8 tahun saya geluti bidang ini. Keputusan saya sangat disayangkan orangtua tapi saya tak ingin menyia-nyiakan masa kecil anak kami. Saya ingin anak kami bisa merasakan lembutnya kasih ibu yang dulu kurang saya rasakan. Bukan berarti ibu saya ibu yang buruk. Sungguh ia contoh ibu terbaik bagi saya. Tapi ada beberapa pengalaman masa kecil yang membuat saya seperti ini. Toh banyak hal yang bisa saya lakukan di rumah. Contohnya saja dengan saya menulis. Dengan menulis saya tetap bisa berbagi ilmu dan berteman. Saya ingin menekan ego saya untuk tidak berpendar seorang diri. Saya yang sekarang lebih bangga melihat suami dan anak sukses daripada saya sibuk menggpai angan seorang diri. Semoga saya besok juga tetep dengan pendirian sama.
"Di balik sukses seorang tokoh, tersembunyi peran dua perempuan yang amat menentukan, yaitu ibu dan isteri" #Petikan pidato BJ Habibie pada saat Penganugerahan Gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Filsafat Teknologi dari ... peran dua perempuan yang amat menentukan, yaitu ibu dan isteri
Feminisme, Antara Kesetaraan dan Kebablasan 

Mungkin banyak perempuan Indonesia yang bernasib sama seperti saya. Mungkin ada yang merasa kebebasannya telah direnggut oleh agama dan adat di masyarakat. Tak bisa begini tak bisa begitu. Merasa perempuan dibedakan dengan kaum lelaki. Merasa perempuan selalu dinomor duakan dan selau kedudukannya selalu dibawah laki-laki. Berbagai usaha telah perempuan lakukan demi meraih kesetaraaan yang mereka inginkan. Salah satunya adalah perjuangan Kartini dalam usahanya mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki dalammm hal pendidikan.

Dia adalah perempuan istimewa pada zamannya yang sangat peduli dengan sesamanya. Dimana pada saat itu banyak perempuan diperlakukan kurang menyenangkan di masyarakat karena terlahir sebagai perempuan salah satunya dalam hal pendidikan. masyarakat pada zaman Kartini beranggapan bahwa perempuan tidak perlu mencari ilmu terlalu tinggi karena ujung-ujungnya hanya berkutat pada dapur, sumur dan kasur. Alhasil perempuan Indonesia banyak yang buta huruf. Itulah yang mendorong Kartini untuk membuat sekolah kecil khusus perempuan dan menuangkan ide dan keluh kesahnya dalam mengangkat derajat kaumnya.

Jadi  pantas kiranya jika Kartini disebut sebagai salah satu pelopor gerakan feminisme di Indonesia. apa itu feminisme? Gerakan feminisme adalah suatu gerakan perempuan dalam memperoleh kesetaraan politik,  sosial dan pendidikan antara kaum perempuan dan laki-laki. Namun sayang seiring berkembangnya zaman, gerakan feminis yang dipopulerkan oleh Charles Fouries ini tak lagi sesuai dengan tujuan pertamanya. Gerakan-gerakan feminis yang dibentuk perempuan pada zaman sekarang telah sangat melenceng dari ideologi awal yang menuntut kesetaraan, justru pada kenyataannya mencari kekuasaan dan kebebasan yang di luar batas.

Ada beberapa contoh gerakan-gerakan feminis dunia yang terbukti melenceng dari tujuan pertamanya. Contohnya saja gerakan feminis yang pernah terjadi di Indonesia yang sangat kontroversial. Diantaranya hak mengeksplotasi tubuh secara bebas dan adanya tuntutan pembebasan perempuan dari ketidak adilan hukum fikih. Mereka berusaha mengkritisi berbagai masalah fikih yang dianggap merugikan atau tidak adil terhadap perempuan, yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan naïf seperti: Apakah perempuan wajib berjilbab? Mengapa perempuan hak warisnya setengah? Mengapa perempuan tidak boleh menikahkan diri sendiri? serta Mengapa perempuan tidak layak menjadi imam dalam beribadah dengan laki-laki?

Selain di Indonesia, di Australia juga terjadi hal yang sama. Ada anak remaja perempuan berusia 14 tahun menginginkan dan akan bertukar pasangan tiga kali silih berganti dalam sehari tanpa ada yang tahu satu sama lain. Sebab anak perempuan itu berpikir bahwa pria bisa berganti-ganti pasangan seenaknya, mengapa perempuan tidak?

Tidak hanya itu, dewasa ini bahkan ada gerakan feminisme bertelanjang dada dan gerakan pembakaran bra. Ironisnya, telah terjadi kesalahpahaman arti feminisme yang dilakukan oleh wanita itu sendiri. Adanya pemahaman kesetaraan gender yang keliru bahkan meleset jauh dari arti sesungguhnya yang tanpa mereka sadari menjatuhkan harga diri mereka sendiri dan tentunya sangat berdampak negatif bagi kehidupan sosial mereka.

Berbagai gerakan-gerakan feminis tersebut menurut saya sudah sangat berlebihan. Karena mereka tak lagi menginginkan kesetaraan saja namun juga kebabasan yang diluar batas. Gerakan-gerakan itu Cuma sebagai kedok untuk memuluskan jalan mereka untuk mengakali hukum dan peraturan agar sesuai dengan kehendak mereka. Padahal hidup dalam hidup harus memiliki aturan dan etika. Dan antara perempuan dan laki-laki sejatinya memang berbeda. Dua-duanya memiliki tugas dan peran masing-masing yang sama istimewanya. Dan jika mereka mengerti perempuan memiliki tugas yang sangat mulia yang tidak bisa didapat oleh seorang laki-laki. Yaitu menciptakan generasi-generasi unggul dengan tangannya. Jadi apapun pekerjaan dan sehebat apapun perempuan di luar sana selayaknya tidak meninggalkan tugas dan tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga.

Dra. Khofifah Indar Parawansa adalah Inspirasiku
SUMBER : louvrefoto.com
Siapa yang tak mengenal Dra. Khofifah Indar Parawansa? Dia adalah sosok muslimah dengan segudang prestasi. Bayangkan sebelum menjadi Menteri Sosial di (Kabinet Pemerintahan) Presiden Jokowi beliau sudah pernah menjabat beragam jabatan di pemerintahan. Diantaranya, DPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ( 1992 - 1997 ), Pimpinan Komisi VIII DPR RI Komisi VIII dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), DPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ( 1997 - 1999 ), Anggota Komisi II DPR RI Komisi II dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), DPR dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) ( 1999 - 2004 ), DPR dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) ( 2004 - 2009 ), Ketua Komisi VI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), Anggota Komisi VII dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) ( 2006 - 2007 ), Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Kabinet Abdurrahman Wahid ( 1999 - 2000 ), Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Kabinet Abdurrahman Wahid ( 2000 - 2001 ).

Dan yang membuat saya sangat mengidolakannya beliau adalah sosok muslimah berhijab yang sungguh insiparatif bagi kaumnya. Beliau adalah sosok yang tegas, tangguh dan tak pantang menyerah. Siapa sangka Menteri Sosial di (Kabinet Pemerintahan) Presiden Jokowi ini, berasal dari keluarga yang sederhana. Orangtua beliau hanya seorang penjual es lilin saja. Dan ibu khofifah kecil biasa membantu orangtuanya berjualan juga. Selain itu, beliau juga tak pernah melupakan perannya sebagai seorang ibu dari empat orang anaknya. Walaupun harus curi-curi waktu beliau selalu menyempatkan untuk kualititime dengan anak-anaknya. Diantaranya berbelanja kebutuhan belanja bulanan bersama anak-anaknya atau hanya sekedar merawat kelinci peliharaan depan rumah. Dan selalu memantau anaknya via telpon ketika sedang melakukan tugasnya.

Beginilah seorang ibu seharusnya. Bagaimanapun perannya di masyarakat. Setinggi apapun jabatannya, selayaknya seorang ibu atau seorang istri tidak melupakan tugas dan tanggung jawabnya dalam keluarga.

4 komentar:

  1. Saya bersyukur dan bangga Mba, saya ditakdirkan jadi perempuan Indonesia. Ga semua perempuan bisa memiliki kesempatan seperti kita perempuan2 Indonesia. Hidup di masyarakat yang masih memandang rendah kaum perempuan membuat saya makin bersyukur atas ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak kadang kita yang hidup di Indonesia seperti saya kurang bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan pada kita masyarakat Indonesia. Oh..ya makasih kunjungannya mbak cantiiik...!!!

      Hapus
  2. Alhamdulillah, saya pun bersyukur lahir menjadi wanita Indonesia, dimana kita dijunjung tinggi nilai-nilai dan norma, ada batasan yang tidak bisa kita lewati, yang terpenting wanita Indonesia pun tidak kalah, masih bisa berkarya dan berprestasi. Seperti idola mba, Ibu Khofifah, beliau memang wanita yang luar biasa. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak bener banget... Terimakasih banyak telah mampir di blog saya :)

      Hapus

Follower

Contact us

Nama

Email *

Pesan *