Rabu, 01 Maret 2017

CERPEN ( Cerita Pendek ) Berjudul : Gadis Masa Lalu

Perasaan khawatir mulai menderaku. Bagaimana tidak sudah dua jam lebih gadis itu tak kunjung sadarkan diri. Terpaksa ku cancel beberapa pertemuan dengan klien penting karena khawatir dengan kondisinya. Apa yang kulakukan ini sangatlah wajar, mengingat yang telah dilakukannya. Tak bisa ku bayangkan apa yang terjadi dengan ku jika ia tak mendorongku tadi.  Dan imbasnya, ia yang malah mengalami luka yang lebih parah hingga tak sadarkan diri karena pengendara sepeda motor ugal-ugalan itu menyenggolnya. Ach… aku sangat menyesal dengan kejadian itu, karena kecerobohanku orang lain celaka. Dan yang paling membuat ku khawatir perkataan dokter setelah memeriksanya. dokter mengatakan segala macam tindakan seperti obat, infuse dan tindakan lainnya sepertinya tidak membarikan efek baik bahkan ditolak oleh tubuh gadis itu. Sehingga Dokter hanya memerban luka di tubuhnya. Aku takut ini disebabkan kecelakaan tadi. Aku sungguh khawatir…

SUMBER : septianaindri79
“Kang… kang jangan tinggal Ratih sendiri kang…!”, suara lirih gadis itu membangunkan lamunanku. “Alhamdulillah… dia sadar juga”, gumamku. Langsung saja kupanggil suster yang kebetulan berjalan dekat pintu ruangan ini. Tapi anehnya gadis itu malah ingin beranjak tempat tidurnya. “Saya dimana ini, teh … !”, tanyanya sambil sambil beranjak dari tempat tidur. Aku melarangnya untuk bangun, untung dokter segera datang dan memeriksanya. “Bagaimana keadaannya dok?” tanyaku pada dokter. Tapi dengan raut muka serius, dokter mengajak saya ke ruangannya. Dan kesimpulannya, dokter menemukan beberapa kejanggalan pada tubuh gadis itu yang belum pernah dokter temui. Aku tambah merasa semakin merasa bersalah mendengarnya. Aku takut ini dikarenakan kecelakaan tadi siang. Untuk itu saya meminta dokter untuk menyelidiki lebih mendalam dan temukan solusi agar gadis itu bisa pulih seperti biasa.

Setelah menemui dokter, saya langsung bergegas menemui gadis itu. Kami berkenalan satu sama lain dan tak lupa kuucapkan permintaan maaf dan terima kasih kepadanya. Ternyata Gadis itu bernama Ratih. Sosok langka yang tak pernah kutemui di zaman sekarang. Betapa tidak, di zaman sekarang ada gadis yang belum genap 20 tahun, berpakaian kebaya dengan rambut disanggul.  Selain itu, logat sundanya yang sangat kental menambah keunikan gadis ayu nan santun ini. Untung saja Oma orang sunda juga, Jadi sedikit-sedikit aku faham ucapannya.
  
Kami ngobrol kesana-kemari. Sampai akhirnya, ia menceritakan tujuan datang ke kota ini, Walau agak nggak percaya sich… Bayangkan saja! Menurut ceritanya, kedatangannya ke daerah ini adalah untuk mencari tunangannya yang hilang tanpa kabar. Setelah sepasang kekasih itu berpisah. Ratih dan keluarganya harus mengungsi dari tempat kelahirannya di Karapyak. Sedang tunangannya memutuskan tetap di desanya untuk ikut bergerilya membumi hanguskan kota Bandung sebagai cara memerangi sekutu. Hah.. Sekutu bukankah itu terjadi di zaman penjajahan Belanda? Lalu di mana desa Karapyak itu? Selama lima tahun di Bandung membangun bisnis butikku, belum pernah aku mendengar desa Karapyak. Imbasnya, Aku bingung menanggapi ceritanya. Aku hanya bisa manggut-manggut saja mendengar ceritanya. Walau dalam hatiku sedang terjadi perang dahsyat antara memercayai Ratih atau tidak. Ingin rasanya nggak percaya, Bukankah peristiwa itu terjadi puluhan tahun yang lalu? Logikaku menolaknya. Tapi apa motif gadis lugu ini berbohong padaku? Tapi jika dilihat dari logat bicara dan penampilannya, Ratih memang lebih pantas menjadi gadis-gadis zaman dahulu. Tapi apa mungkin? Ahh… aku menjadi lebih takut mendengar cerita Ratih. Aku takut Ratih mengalami halusinasi atau hal lain yang diakibatkan benturan di kepalanya siang tadi. Aku semakin tak tega meninggalkannya. Ku putuskan untuk tetap menungguinya. Walau bik Narti sudah datang untuk menggantikanku sambil membawakan makan siang. Aku tetap bersikeras untuk menungguinya. Kedatangan bik Narti malah ku manfaatkan untuk mendatangi ruang dokter untuk  menceritakan kegelisahanku terkait gadis itu. 

Sang surya mulai pulang ke peraduan.  Gadis itu sudah kelihatan membaik. Badannya sudah tidak lemas lagi. Walau mukanya masih terlihat pucat. Tanda bahwa dia belum sehat benar. Saat aku dan bik Narti sedang asik ngobrol di depan ruangan itu, Ratih menghampiri kami. Aku memintanya untuk kembali beristirahat, tapi ia menolaknya. Ia malah duduk disampingku.” Aya hiji hal anu hoyong abdi bicarakan kalawan teteh!”, kata Ratih dengan suara lembutnya. “ Oo iya Rat… boleh silahkan !”, jawabku. “Teh Sofi, hatur nuhun seueur luhur sadayana. awak abdi atos enakan. menta widi kanggo neraskeun lalampahan balik pilari tunangan abdi...” pinta Ratih saat berpamitan kepadaku. Aku dengan tegas menolaknya. Karena aku yakin Ratih belum sembuh benar. Tapi dia merasa sudah tidak betah berada di rumah sakit. Ia ingin segara mencari tunangannya kembali. Akhirnya, karena ia memaksa. Aku bicarakan ini pada dokter. Dokter ternyata juga menyetujui permintaanya. Karena dokter juga belum bisa memberi tindakan apa-apa. Tapi dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan AKG ketika Ratih sudah cukup sehat.

Aku beritahukan informasi ini padanya. Ia kelihatan sangat senang. Tapi aku mohon padanya untuk tinggal di rumahku sampai ia sudah sembuh benar. “Hatur nuhun teh,nanging abdi kedah mios... “ ,katanya padaku. “ Tapi kamu belum sembuh Ratih. Saya akan merasa sangat bersalah selama hidup saya jika kamu menolak permintaan saya lho!” pintaku setengah mengiba. “Saya janji akan membantu kamu mencari kekasihmu sebisaku” lanjutku. Setelah cukup alot perdebatan kami, akhirnya dia setuju juga.

Sungguh Ratih pribadi yang tidak hanya santun tapi juga rajin. Dia tak segan membantu apa saja. Walau aku tahu dia belum sembuh benar. Dan untuk masalah dapur dia jagonya. Terutama masakan-masakan sunda. Dari soto bandung, sambel goreng ati kentang, ayam bakakak, misro, es cendol sampai es cingcau. Semuanya sudah pernah tersaji di meja makanku. Dan anehnya semua masakannya, bercita rasa sama dengan buatan Oma. Jadi, karenanya kerinduanku pada Oma sedikit bisa terobati.
Tiga hari sudah berlalu setelah kedatangan Ratih. Kami menjadi semakin akrab. Aku tak lagi kesepian jika malam hari. Karena biasanya bik Narti akan pulang ke rumahnya jika waktu menjelang sore. Begitu juga sopirku ‘pak Toha’. Dia juga pulang setelah menjemputku dari butik. Kesepian selalu melanda ku ketika malam hari. Tapi kini setelah kedatangan Ratih, aku jadi ada teman ngobrol. Walau kadang sulit memahami bahasa sundanya yang kental lagi sangat halus, tapi aku merasa nyambung saja. Dan diapun juga bisa memahami bahasaku walau tak bisa mengimbanginya. Sampai-sampai aku punya keinginan untuk mengangkatnya sebagai adek dan menyekolahkannya. Walau belum kuutarakan langsung. Karena ternyata gadis itu tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Bahkan membacapun ia tidak bisa. Aku akan senang jika dia setuju. Karena selama ini aku hanya tinggal dan dibesarkan oleh Oma di Jakarta. Mama meninggal setelah melahirkan aku. Sedang papa menikah lagi lima tahun kemudian. Dan setelah itu ia tak pernah menjengukku. Mungkin kedatangan Ratih dapat mengobati kerinduanku akan arti keluarga.

Biasanya Ratih selalu diantar pak Toha ketika menyusuri kota untuk mencari tunangannya. Tapi hari Minggu ini aku berjanji akan menemaninya. Kami berangkat  cukup pagi. Mungkin sekitar jam 08.00 pagi, kami berangkat. Tapi kali ini aku ingin mengajak nya ke kampoeng tulip terlebih dahulu. Mungkin akan lebih mudah mencari seseorang di daerah wisata. Hitung-hitung sekalian menghibur hatinya yang sedang sedih. Apalagi kampoeng tulip sangatlah ngetren di kalangan anak muda saat ini. Mungkin disana Ratih dapat bertemu tunangannya.
Tapi kelihatannya rencana menghiburnya tidaklah berhasil. Sepanjang perjalanan Ratih hanya diam dan sedih. Sambil sesekali celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Dan yang pasti mencari kekasihnya. Itu pasti… Aku bisa melihat itu. Betapa cinta dan rindunya Ratih pada kekasihnya itu. Memang wanita itu selalu gampang dibodohi lelaki. Mereka selalu gampang terbawa perasaan. Sehingga mudah dikibuli oleh lelaki yang tak bertanggung jawab seperti papa ku. Ahh… aku mulai mengigau. 

Kami menyusuri semua tempat di Kampoeng Tulip. Mulai dari taman bunga, kolam terapi ikan, naik perahu dan berselfi ria di rumah bergaya belanda. Tapi herannya Ratih tak sedikitpun tersenyum. Aku memintanya untuk sedikit santai dan bahkan menghiburnya. Tapi itu tak sedikitpun membantu. Sampai akhirnya aku harus meninggalkannya sendiri karena handphoneku berdering. Beberapa saat kemudian aku mencari untuk mengajaknya pulang. Klien menanyakan beberapa gaun yang ia pesan dan gawatnya aku lupa denganm pesanan itu. Padahal gaun ini akan diambil besok jam 10.00 pagi. Ahh dasar ceroboh…

 D i tengah kekalutanku, Ratih malah menghilang. Kucarinya kesana-kemari. Sampai akhirnya aku menemukannya sedang berbicara dengan seseorang di taman bunga tempat itu. Dengan siapa? Aku tidak tahu. Seseorang yang ia ajak bicara terhalang oleh pohon. Aku sudah tak sempat lagi bertanya atau bahkan menghampirinya. Aku hanya memanggil Ratih dari jauh untuk mengajaknya pulang. 

Aku melihat banyak perubahan pada dirinya sekembali dari tempat itu. Dia terlihat sedang berbahagia. Mungkin obyek wisata itu dapat sedikit merubah suasana hatinya. Tapi aku sudah tak ada waktu untuk menyapanya waktu itu. Setelah memulangkan Ratih, aku langsung meluncur ke butikku di Jl Mars. Para pegawai terpaksa ku suruh datang padahal hari ini seharusnya mereka libur. Untung mereka mengerti. Aku mempunyai dua penjahit handal yang tiga tahun terakhir membantuku. Aku memberi mereka satu rancangan gaun untuk mereka kerjakan di rumah. Dan sisa dua gaun akan ku kerjakan bersama temanku si Febi ‘teman kuliahku yang juga fashion desainer’. Kami janjian mengerjakannya di rumahku.

Untung tak dapat di raih, malang tak dapat ditolak. Itulah mungkin peribahasa yang tepat atas apa yang menimpaku saat ini. Mengapa tidak? Febi yang sebelumnya bersedia membantu, membatalkan janjinya secara tiba-tiba karena ibunya masuk rumah sakit. Apa mau di kata hari ini aku harus begadang semalaman. Sesampai di rumah, aku langsung masuk kamar untuk segera mengerjakan pekerjaanku karena sudah pukul 17.00 malam. Tak lagi ku hiraukan sekelilingku. Apalagi makan malam, perut ku seolah kenyang sebelum makan.

Di tengah kesibukanku aku mendengar pintu kamar diketuk.” Teh, apakah teteh atos mondok?”, tanya Ratih. “belum Rat…!” jawabku. Ku buka pintu kamar dan mempersilahkan masuk. “ ada apa Rat?”, tanyaku sambil mengerjakan pekerjaanku tanpa memandangnya sedikitpun. “Hapunten teteh,abdi terang teteh rarepot pisan. nanging ieu sangatlah peryogi,margi abdi tak gaduh seueur wanci... bisakah teteh melowongkeun wanci sapuluh menit wae, nyarios kalawan abdi?” katanya dengan nada serius. “ Maafkan saya Ratih. Tapi saya sangat sibuk. Saya ada pekerjaan yang juga sangat penting yang harus selesai esok hari. Kamu mengertikan… maaf ya!” Jawabku dengan penuh penyesalan.  “O heueuh teh. teu naon-naon” jawabnya sambil melangkah keluar kamarku. Sejurus ada penyesalan, tapi kemudian ketika ingat pekerjaan ku peristiwa itu sudah terlupakan. Yang ku ingat hanya pekerjaan ini harus selesai tepat waktu. Sampai-sampai pintu kamar ku biarkan terbuka setelah kepergian Ratih tadi.

Satu gaun sudah hampir selesai. Tinggal finishing sana sini. Untuk membunuh ketegangan, ku putar lagu-lagu Afgan ‘artis favoritku’. Ahh selesai juga satu gaun. Malam itu terasa sangat cepat. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Aku sangat lelah dan ngantuk. tapi gaun kedua juga harus selesai. Lalu bergegas ku buat pola dan ku potong kain yang sudah ku siapkan. Kemudian kuambil potongan kain tadi untuk ku jahit. Ahh… kantukku tak dapat ku tahan lagi. Aku terlelap diiringi lagu-lagu Afgan. 

Sampai akhirnya aku di kagetkan oleh dering handphoneku. Hah.. ini sudah sangat siang. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 08.00. Buru-buru kuambil handphone di meja sisi ranjang. Ternyata dari salah satu pegawaiku yang akan masuk kerja tapi butik masih tutup. Aku tak bisa berpikir logis. Kusalahkan semua orang rumah yang tidak membangunkanku. Tanpa mendengar alasan mereka aku berlalu pergi untuk menyuruh pak toha mengantar kunci butik. Segera kulahap secepat mungkin sarapan pagiku dan bergegas untuk siap-siap. Kendala lagi-lagi datang. Aku kehilangan gaun yang selesai ku buat tadi malam. Heh tidak gaun lain yang masih sempat aku potongpun juga hilang. Ku cari kemana-mana tak ku temui. Aku berteriak-teriak memanggil bik Narti. Lalu tergopoh-gopoh ia datang ke kamarku. “Ada apa neng?” tanyanya penuh kaget. “Apakah bik Narti memindah dua gaun yang ku kerjakan tadi malam. Satu gaun ku letakkan diatas ranjangku dan gaun berikutnya masih berupa potongan kutaruh diatas mesin jahitku”, tuduhku kepadanya. Ia malah tersenyum mendengar tuduhanku. Lalu ia mengatakan bahwa dua gaun itu telah dipindah Ratih untuk ia kerjakan. Karena takut menggangku tidurku. Gaun itu ia taruh di ruang tamu. Kaget aku mendengarnya. Lancang sekali dia, aku tahu dia memang suka membantuku tapi bukan ini. Apa dia mampu… langsung saja dengan muka merah padam ku cari gaun itu di ruang tamu. Ahh.. itu dia. Ia taruh diatas meja. Lagi-lagi aku dikagetkan ulah gadis itu. Ternyata aku salah menilainya. Dia memang gadis luar biasa. Sekali lagi ia menolongku. Ratih telah berhasil membuat gaun yang sangat indah. Takjubku lagi ia kerjakan semuanya dengan tangan. Dan semuanya terlihat rapi. langsung saja kusiapkan semuanya untuk kubawa ke butik. Setelah persiapan lengkap ku cari Ratih untuk mengucapkan terima kasih. Tapi kata bik Narti, Ratih tidak ada. Ingin aku bertanya dimana perginya gadis itu, tapi kuurungkan. Mungkin ia mandi. Soal ucapan terima kasih bisa nanti-nanti. Langsung saja aku pergi menuju butik     

Ahh… semua keruwetan hari ini akhirnya selesai juga. Klien merasa puas dengan semua hasilnya. Dan hari ini butik sangat ramai pengunjung. Hari sudah larut. Aku bergegas pulang untuk segera menemui Ratih. Sesampai di rumah kucari gadis itu di semua sisi ruamahku. Tapi yang kutemui malah bik Narti. “lho bibik kok belum pulang?, maaf ya bik atas sikapku tadi pagi”, ungkap dengan penuh penyesalan. “ ahh gak pa-pa neng..bibik sangat mengerti apa yang sedang eneng alami. Apakah neng mencari Ratih?”,tanyanya padaku. Lalu ia mengajakku duduk di kursi ruang itu. Sambil memegang tanganku erat. Bibik menceritakan bahwa Ratih sudah pergi selepas mengerjakan gaun tadi. Aku kaget mendengarnya. Apa itu yang ingin ia bicarakan tadi malam. Bodohnya aku tak memberi kesempatan bicara padanya. Kata bibik, Ratih sudah menemukan tunangannya. Ia bertemu dengan tunangannya di  Kampoeng tulip kemaren. Tapi ia menolak pergi sebelum berpamitan denganku. Ahh.. penyesalan selalu datang belakangan.

Berhari-hari perasaan sedih dan penyesalan belum juga sirna. Ratih, gadis yang sudah kuanggap adikku sendiri itu pergi entah kemana. Ditambah lagi pertemuan terkhirku dengan Ratih sungguh tidak mengenakkan. Aku sungguh menyesal atas semuanya. Hari ini kuputuskan untuk ke Jakarta menemui Oma. Akan kutumpahkan semua sedih dan penyesalanku padanya. Butik ku pasrahkan pada pegawai kepercayaanku. 

Aku sudah sampai di halaman rumah Oma. Kudapati Oma sedang duduk di beranda seperti membaca sesuatu. “Oma…” sapaku padanya.  “ Ooo sayangnya  Oma.... aya angin naon dinten kemis naha atos wangsul? pan dawam minggu neng. ahh teu naon-naon Oma senang kamu bisa pulang hari ini Oma kangen sama kamu” katanya sambil memelukku. “ada yang ingin Sofi ceritakan ke oma.” Kataku. “Ada apa sayang? kok kelihatan sedih. Ahh... engke bae carios na oma tadi meser es cingcau na mang diman. koma bantun pan tiheula!”, kata Oma sambil bergegas pergi. Aku hanya tersenyum kecut. 

Aku menunggu Oma dengan duduk di kursi beranda tepat Oma duduk tadi. Iseng ku buka album foto usang yang ternyata dilihat Oma tadi. sejurus kemudian Oma datang dari balik pintu. “Album kapan ini Oma kok Sofi belum pernah lihat?”, tanyaku padanya. “O… itu, Aki Sunar kemaren berkunjung ke Jakarta. manehna miwarang Oma ngalereskeun albeum kenangan ieu supados langkung awet. Karena ada banyak foto yang sudah mulai rusak. Padahal album foto ini sudah di perbaiki dua kali!”, kata Oma. Aku mendengarkan cerita oma sambil menyruput es cingcau dan membolak-balik album itu. “ mataku tiba-tiba tertuju pada sosok gadis di foto itu… "Bukankah ini Ratih",batinku. Aku sangat kaget sampai es cingcau dalam genggaman kulepaskan begitu saja. “Ada apa sayang”, Oma pun kaget. Tapi kaget gelasku lepas dari genggaman. “Ini siapa Oma?”, aku balik tanya. “ oo. Itu,  eta nini anjeun. Namanya Ratih…landian.. raka Oma. nanging anjeunna ical teuing keman. Teu nyaho hirup keneh atawa atos nilar! Raka Oma eta ical tanpa tapak sanggeus maksa kabur ti imah anyar urang sanggeus mengungsi ka surabaya. Ninimu berbuat demikian setelah mendengar kabar tunangannya gugur di medan perang. Setelah ikut bergerilya pada peristiwa bandung lautan api,”, cerita Oma dengan sedih. Cerita dari Oma lebih membuatku kaget. kok bisacerita Oma sama persis seperti apa yang Ratih ceritakan padaku.Apa benar Ratih yang ku temui itu orang sama dengan yang Oma ceritakan? Tapi mengapa ia masih terlihat muda persis yang ada di album? Seharusnya ia lebih tua dari oma. Aku benar-benar bingung.

“Coba Oma lihat foto ini!”, kataku sambil menunjukkan foto Ratih saat di Kampoeng tulip bersamaku kemaren. Oma sangat kaget melihatnya. Gadis itu memang begitu mirip  dengan kakaknya. Lalu ku ceritakan awal pertemuanku dengan Ratih hingga ia pergi dijemput kekasihnya. Berikut juga semua sikap baik, kebiasaan dan cara bicaranya. Dan ternyata semuanya memang sangatlah mirip dengan kakak Oma itu. “ Ini mungkin memang ninimu Sofi… Tuhan telah mentakdirkan kamu bertemu dengannya. Agar kamu bisa menyampaikan kabar baik pada Omamu ini dan Aki Sunar bahwa nini Ratih sudah meninggal dan bahagia di sana.",Ungkap Oma sambil memelukku erat. Kami sama-sama menangis. Ini berarti gadis yang ku anggap adek adalah niniku sendiri. Ahh… aku bingung harus senang atau sedih.

2 komentar:

  1. Waahh... ternyata ratih...
    Bagus cerpennya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak. Salam kenal mbak,sering-sering mampir di blog ya...

      Hapus

Follower

Contact us

Nama

Email *

Pesan *